EVALUASI & ASSESMEN PENDIDIKAN: INTRUMEN TES & NONTES
EVALUASI & ASSESMEN
PENDIDIKAN:
INTRUMEN TES & NONTES
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Secara umum yang dimaksud dengan instrumen
adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat digunakan
sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai
suatu variable. Dalam bidang penelitian, instrumen diartikan sebagai alat untuk
mengumpulkan data mengenai variabel-variabel penelitian untuk kebutuhan
penelitian, sedangkan dalam bidang pendidikan instrumen digunakan untuk
mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga mempunyai hubungan
atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa,
keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian suatu
program tertentu.
Pada dasarnya instrumen dapat dibagi dua yaitu
tes dan non tes. Berdasarkan bentuk atau jenisnya, tes dibedakan menjadi tes
uraian dan obyektif, sedangkan nontes terdiri dari observasi, wawancara
(interview), angket (questionaire), pemeriksaan document (documentary
analysis), dan sosiometri. Instrumen yang berbentuk test bersifat performansi
maksimum sedang instrumen nontes bersifat performansi tipikal.
Di lain pihak, penggunaan nontes untuk menilai
hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan
penggunaan alat melalui tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Padahal ada
aspek-aspek yang tidak bisa terukur secara “realtime” dengan hanya menggunakan
test, seperti pada mata pelajaran matematika. Pada tes siswa dapat menjawab
dengan tepat saat diberi pertanyaan tentang langkah-langkah melukis sudut
menggunakan jangka tanpa busur, tetapi waktu diminta melukis secara langsung di
kertas atau papan tulis ternyata cara menggunakan jangka saja mereka tidak
bisa. Jadi dengan menggunakan nontes guru bisa menilai siswa secara
komprehensif, bukan hanya dari aspek kognitif saja, tapi juga afektif dan
psikomotornya.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang
telah disebutkan diatas, maka diperlukan suatu langkah-langkah untuk penyusunan
dan pengembangan baik tes uraian maupun nontes. Hal ini juga dapat digunakan
untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan
secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh
masing-masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan
pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
HAKIKAT EVALUASI
A.
Pengertian Evaluasi
Menurut Tyler (1949) mendefinisikan evaluasi sebagai
suatu proses penentuan sampai seberapa jauh suatu perubahan tingkah laku telah
terjadi pada peserta didik. Proses evaluasi
mencakup kegiatan perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, penafsiran data dan pemberian nilai. Penilaian adalah suatu proses
pemberian nilai terhadap sesuatu dengan cara menafsirkan skor yang diperoleh
dari hasil pengukuran, untuk mengambil suatu keputusan Proses untuk menentukan nilai dari
sesuatu yang sedang dinilai itu diperlukan pengukuran dan wujud dari pengukuran
itu adalah pungujian (testing). Salah satu tugas utama pendidik yang
sangat penting dilakukan adalah melakukan evaluasi. Evaluasi merupakan proses
memperoleh informasi untuk membuat keputusan. Keputusan yang berkenan dengan
tugas pendidik dapat diidentifikasi menjadi empat tujuan,
yakni keputusan untuk:
·
Mendukung pembelajaran dan merencanakan dan merencanakan
pembelajaran baik bagi setiap anak maupun kelompok.
·
Mengidentifikasi jika ada anak yang berkebutuhan khusus
·
Menilai seberapa baik program yang telah dilakukan dalam
mencapai tujuan
·
Pertanggungjawaban lembaga yang disampaikan baik kepada
orangtua maupun kepada pihak-pihak terkait.
Evaluasi yang ditujukan untuk membuat keputusan
dalam mendukung pembelajaran anak merupakan kegiatan terpenting bagi pendidik.
Melalui evaluasi pendidik mendapatkan informasi yang berguna tentang kondisi
dan kemajuan perkembangan anak. Langkah pertama dalam melakukan evaluasi adalah
mengumpulkan fakta-fakta. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui
observasi yang terus menerus kepada anak. Observasi bukan berarti hanya sekedar
mengamati apa yang dilakukan anak, namun juga mendengarkan apa yang mereka
sampaikan. Cara lainnya adalah mengumpulkan karya anak dan menempatkannya dalam
portofolio setiap anak.
Setelah data dikumpulkan, langkah selanjutnya
adalah menganalisis dan menggunakannya untuk mendukung perkembangan dan proses
pembelajaran anak. Dengan demikian, pengertian perkembangan dapat disimpulkan
sebagai proses pengumpulan, penganalisisan, penafsiran, dan pemberian keputusan
tentang data perkembangan
dan proses pembelajaran anak.
B. Definisi Tes & Pengukuran
Tes berasal dari
bahasa Perancis Kuno “testum” berarti piring atau wadah untuk menyisihkan
logam-logam mulia. Tes dalam evaluasi pembelajaran adalah cara atau prosedur
dalam rangka pengukuran di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas
atau pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, (Sudijono, 2003). Tes adalah
pengumpul data atau informasi yang dirancang khusus sesuai dengan karakteristik
informasi yang diinginkan evaluator.
Mehren
& Lehman mengatakan bahwa tes menunjukkan suatu rangkaian pertanyaan yang
harus dijawab.
Pengukuran adalah sebagai suatu proses
membandingkan antara kriterium dengan yang diukur (pemberian angka).
Technically,
measurement is the assignment of numerals to objects or events according to
rules that give numeral quantitative meaning (Wiersma dan Jurs)
C.
Prinsip Evaluasi
Prinsip yang harus
diperhatikan dalam evaluasi adalah:
1.
Menyeluruh
Evaluasi dilakukan terhadap proses maupun hasil kegiatan
anak. Evaluasi terhadap proses adalah evaluasi yang dilakukan pada saat
kegiatan sedang berlangsung, sehingga yang dilihat adalah tingkah laku,
kemmpuan berkomunikasi serta gerak gerik anak.
Evaluasi terhadap hasil adalah evaluasi yang berkaitan dengan
hasil yang dikerjakan anak, yang berupa hasil ketrampilan geraknya, seperti
gerak kaki pada berjalan atau gerakan-gerakan tangan berupa bentuk tertentu,
seperti menggunting, menggambar, meronce dan hasil coretan-coretan.
2.
Berkesinambungan
Evaluasi yang berkesinambungan adalah apabila dilakukan
secara bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambarannya menyeluruh
terhadap hasil pembelajaran.
3.
Obyektif
Evaluasi dilakukan seobyektif mungkin dengan memperhatikan
perbedaan dan keunikan perkembangan anak, dimana tidak selalu memberikan
penafsiran yang sama terhadap gejala yang sama. Prasangka-prasangka, keinginan-keinginan serta
perasaan-perasaan tertentu tidak boleh mempengaruhi (menambah atau mengurangi)
penilaian yang dilakukan.
4.
Mendidik
Hasil evaluasi harus bersifat mendidik yaitu dapat digunakan
untuk membina dan memberikan dorongan kepada anak didik dalam meningkatkan
kemampuannya sehingga anak dapat mengembangkan rasa berhasilnya. Oleh karena
itu evaluasi harus bersifat terbuka dan dapat dirasakan sebagai pengayaan bagi
anak yang berhasil dan sebaliknya merupakan peringatan bagi yang belum
berhasil. Dengan demikian usaha penilaian dapat memperkuat perilaku dan sikap
positif.
5.
Kebermaknaan
Hasil evaluasi harus bermakna
bagi pendidik, orangtua, peserta didik dan pihak yang memerlukan. Oleh karena
itu dalam memberikan laporan evaluasi harus diusahakan yang dapat dipahami oleh
semua pihak. Evaluasi yang mengungkap kemampuan-kemampuan yang telah dicapai
anak disusun dalam bentuk deskriptif, tidak dalam bentuk garis besar angka atau
huruf yang diberi bobot.
D.
Ciri Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi yang dilaksanakan dengan menggunakan
pengukuran. Yaitu dengan mengukur fenomena yang tampak dari kepandaian yang
dimiliki oleh peserta didik Evaluasi yang dilaksanakan dengan menggunakan
ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif atau symbol-simbol angka Evaluasi yang
dilaksanakan menggunkan pendekatan normatif atau satuan-satuan yang tetap.
Evaluasi yang dilaksanakan dari waktu ke waktu yang bersifat relatif ; artinya
keberhasilan belajar peserta didik itu pada umumnya tidak selalu menunjukkan
kesamaan Evaluasi kegiatan hasil belajar yang sulit untuk dihindari
terjadinya kekeliruan (Error )
E.
Lingkup Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan pada anak usia dini
dapat mencakup:
1.
Perkembangan yang mencakup:
Nilai-nilai moral dan agama, Motorik, kognitif, Bahasa,
sosial emosional.
2.
Pertumbuhan yang mencakup:
Berat badan, tinggi badan,lingkar kepala, lingkar lengan
atas.
F.
Teknik Evaluasi
Evaluasi
dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran/deskripsi pertumbuhan dan perkembangan
anak didik yang diperoleh dengan menggunakan teknik evaluasi serta serangkaian
prosedur. Dalam melaksanakan evaluasi,
cara yang dapat digunakan yaitu dengan observasi dan portopolio.
1. Observasi
Observasi merupakan pengamatan objektif tentang apa yang
dilakukan dan diucapkan oleh anak. Meskipun sebagai pendidik, kita merasa telah
mengenal mereka, namun selalu ada hal-hal baru yang ditunjukkan oleh anak
sehingga observasi harus dilakukan pendidik secara berkala. Saat melakukan
observasi, pendidik dapat mengetahui keunikan dan kekhasan setiap anak sebagai
dasar membangun hubungan dengan anak dan merencanakan pengalaman pembelajaran
yang memungkinkan setiap anak untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu,
kemampuan observasi bagi seorang pendidik anak usia dini merupakan suatu
kompetensi yang mesti dimiliki. Keuntungan dari observasi
yang dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan anak, adalah:
Memberikan pengamatan yang mendalam kepada seorang anak.
a.
Dengan memusatkan ungkapan bahasa anak
di dalam ruang kelas, ini merupakan kunci untuk mengevaluasi perkembangan anak.
b.
Dengan memusatkan kepada apa yang bisa
dilakukan dan dikatakan seorang anak, bukan pada apa yang tidak bisa dilakukan
seorang anak,ini merupakan dasar perencanaan untuk masa depan.
c.
Membantu pendidik untuk melihat tahap
perkembangan anak, serta membantu meningkatkan perkembangannya.
d.
Membantu pendidik untuk dapat
merencanakan rencana belajar yang baik bagi anak berdasarkan tahap perkembangan
anak.
e.
Membantu pendidik untuk dapat
menjalankan rencana belajar dengan baik guna mendukung tahap perkembangan anak.
f.
Membantu pendidik dalam pengumpulan data
yang sesuai dengan kurikulum guna pengambilan keputusan mengenai tahap
perkembangan anak.
g.
Membantu merencanakan pemberian
pijakan/dukungan kepada anak.
h.
Memberikan informasi kepada orangtua
sehingga mereka memahami perkembangan dan pembelajaran anak lebih baik lagi.
i.
Memberikan informasi yang dapat dilihat
kembali, didiskusikan, dan diinterpretasikan dengan tim pendidik dan pengelola.
j.
Menunjukkan karya anak ke khalayak umum
dengan mengikutsertakan pada pameran tentang ragam bahasa yang diungkapkan
anak.
Data yang berkaitan dengan perilaku dan ucapan anak
selama diamati dapat didokumentasikan dalam berbagai bentuk dokumen seperti anecdotal record, running record, time sampling record, event sampling record, rating
scale dan check list.
2. Pedoman Pencatatan
Kegiatan
pencatatan hasil observasi melalui catatan anekdot, running records,
specimen records, ataupun ceklis bukanlah kegiatan yang mudah.
Pengamat terbiasa mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya dan
dalam waktu yang bersamaan membuat interpretasi tentang apa yang
dilihatnya. Di dalam pencatatan yang obyektif, kita harus memisahkan dua
hal tersebut. Apa yang dicatat harus berupa fakta yang ada, tanpa
melakukan penilaian asumsi, atau kesimpulan.
Bandingkan kedua contoh catatan berikut ini:
|
CONTOH CATATAN OBSERVASI YANG TEPAT
|
CONTOH CATATAN OBSERVASI YANG TIDAK TEPAT
|
|
Ketika sedang bermain ayunan sendiri, Deva memanggil temannya untuk bermain ayunan bersama sambil
tersenyum. ”fika, main ayunan yuk! Sini.”
|
Tidak seperti hari-hari
yang lalu, Deva tampak ceria (Label). Malah Deva mau mengajak temannya bermain bersama dengan ramah
(Asumsi)
|
|
Aza berjalan ke dalam kelas
pagi ini dengan dahi berkerut. Dia menundukkan kepalanya ketika guru
memberinya salam, dan tidak memberikan respon.
|
Aza berjalan masuk ke dalam kelas pagi ini, kelihatannya
dia sedang marah. Dia tidak mau melihat gurunya atau membalas salam
guru. Dia cuek saja ketika berjalan ke ruang berikutnya dan langsung
berjalan ke ruang seberang dengan bahu turun lalu menjatuhkan dirinya di
kursi. Alvar mencoba untuk bergabung,
tetapi didorongnya. Guru mendatangi dan bertanya apakah dia perlu bantuan
untuk mencampur playdough, tetapi dia menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
|
Kesalahan pencatatan yang sering dilakukan
oleh pengamat adalah menghilangkan beberapa fakta, mencatat hal-hal yang tidak
terjadi dan mencatat hal-hal yang tidak pada urutan yang benar.Contohnya: ”Aza berjalan masuk ke dalam kelas pagi ini. Dia tidak
memandang gurunya tetapi langsung duduk di salah satu kursi di kelas. Guru
memintanya untuk mencampur playdough, tetapi dia menolak. Banu datang untuk
bermain dengannya, tetapi Aza mendorongnya”.Fakta-fakta yang dihilangkan adalah: 1) Aza berkerut keningnya, 2) Tidak memberikan respon terhadap salam dari guru, 3) Berjalan ke ruang yang di seberang dengan
bahu turun, 4) Menjatuhkan dirinya di
kursi yang merupakan tempat kegiatan, 5) Menggelengkan kepalanya ketika guru bertanya ingin membantu mencampur
playdough. Fakta-fakta tambahan yang dimasukkan: ”Banu menghampirinya untuk mengajaknya bermain”. Fakta yang
urutannya tidak benar adalah: ”Banu
mencoba untuk bergabung dengannya sebelum guru bertanya mau membantu mencampur
playdough”.
Berikut ini merupakan contoh kata-kata dan kalimat labelling
yang sering dijumpai dalam catatan observasi:
Dia anak yang baik hari ini.
Dimas marah kepada Dini.
Dia berteriak dengan dengan marah.
Dia menunjukkan kekuatannya.
Dia kehilangan kesabaran.
Dia menjadi marah.
Seharusnya dia tidak berbicara seperti itu.
Untuk menghindari
kesalahan-kesalahan dalam mencatat hasil observasi, guru perlu memahami beberapa pedoman
dalam melakukan pencatatan, sebagai berikut:
·
Catat fakta-fakta saja, yakni
menerangkan tindakan yang dilakukan anak, menuliskan penggunaan
kata anak, menjelaskan gerak tubuh anak, menjelaskan ekspresi wajah anak, dan menjelaskan
karya yang dibuat anak.
·
Catat segala sesuatu secara rinci tanpa
menghilangkan apapun. Jangan menginterpretasikan selama
melakukan observasi. Jangan mencatat apapun yang tidak kita
lihat dan yang tidak kita dengar. Gunakan kata-kata deskriptif bukan labelling atau interpretasi.
·
Catat fakta-fakta yang terjadi sesuai
dengan urutan kejadiannya.
Sebagai pengamat, amatilah
anak dengan cara yang tidak terlalu menyolok dengan posisi yang tidak terlalu
dekat dengan anak. Kita boleh mengamati sambil duduk, berdiri atau berjalan
disekitar area observasi. Apapun yang kita gunakan untuk dekat dengan anak untuk
tujuan observasi jangan sampai menarik perhatikan anak. Hindari kontak mata
dengan anak yang kita amati, bila anak yang diamati melihat kepada kita sewaktu
observasi berlangsung, berusahalah untuk menghidari tatapannya dengan
mengalihkan penglihatan ke anak lain.
·
Sebaik-baiknya kita
melakukan observasi, terkadang anak juga mengetahui bahwa ia sedang diamati.
Kalau anak tahu bahwa kita sedang mengamatinya, anak akan merasa tidak enak dan
bisa pergi atau keluar dari area main. Kalau hal ini sampai terjadi maka
observasi harus dihentikan. Observasi dapat dilanjutkan esok hari atau minta
staf lain untuk mengamati anak khusus itu.
·
Kapanpun adalah waktu yang
tepat untuk melakukan observasi. Kita harus tahu pentingnya data apa yang akan
kita peroleh dalam observasi, oleh karena itu kita harus meluangkan waktu yang
baik untuk melakukan observasi. Waktu observasi yang terbaik itu adalah
tergantung pada apa yang kita mau ketahui/pelajari dari seorang anak.
2. Bentuk
Pencatatan
a.
Catatan Anekdot (Anecdotal Record)
Anecdotal
record (catatan kejadian khusus) merupakan uraian
tertulis mengenai perilaku yang ditampilkan oleh anak dalam situasi khusus.
Catatan anekdot ditulis dengan singkat. Catatan anekdot menjelaskan sesuatu
yang terjadi secara faktual (sesuai dengan apa yang dilihat dan didengar),
dengan cara yang obyektif (tidak berprasangka, tidak menduga-duga),
menceritakan bagaimana, kapan dan di mana terjadi peristiwa itu, serta apa yang
dikatakan dan dikerjakan anak.
Keuntungan menggunakan
catatan anekdot adalah:
1)
Observasi dapat bersifat
terbuka. Pengamat dapat mencatat apa saja tentang apa yang dilihatnya tanpa
dibatasi hanya satu macam perilaku khusus.
2)
Pengamat dapat menangkap
hal-hal yang tak terduga pada saat kejadian, pencatatan dilakukan nanti setelah
pembelajaran usai, sehingga tidak mengganggu aktivitas guru.
3)
Pengamat dapat melihat dan
mencatat tingkah laku khusus dan mengabaikan perilaku yang lain.
Kerugian menggunakan
catatan anekdot adalah;
1)
Catatan anekdot tidak
memberikan gambaran yang lengkap karena hanya mencatat peristiwa-peristiwa yang
menarik minat pengamat.
2)
Tergantung pada daya ingat
pengamat. Peristiwa yang terjadi kadang tidak bisa ditulis secara rinci,
karena pencatatan dilakukan setelah pembelajaran selesai.
3)
Kejadian bisa saja keluar
dari konteks dan kemudian diinterpretasikan tidak dengan benar atau digunakan
dengan cara yang bias.
|
CATATAN ANEKDOT
|
||
|
Nama
Anak :
Arif Usia
: 5 tahun
Pengamat
: Bunda Guru Kelompok
: B2
|
||
|
Hari/Tanggal/
Waktu
|
Peristiwa
|
Evaluasi
|
|
Senin,
1-03-2010
Jam: 09.15
|
Alvar dan Ghozy sedang
bermain di halaman sekolah, Alvar berkata pada Ghozy, “Yuk main. Kamu ikuti saya ya ”. Ghozy
berjalan mengitari kotak pasir, melompati ban-ban bekas yang berjejer,
merayap di dalam terowongan dan meniti papan titian.
|
Alvar
memimpin temannya saat bermain (Aspek Perkembangan Sosio-Emosional, Dapat
bermain dengan anak lain)
Alvar
menunjukkan keterampilan motorik kasar (Aspek Perkembangan Fisik, Dapat
menunjukkan keseimbangan saat bergerak)
Bagaimana bunda Guru dapat
meningkatkan keterampilan motorik kasar Alvar
melalui kegiatan bermain yang lebih sulit?
Misalnya: meniti papan titian dengan berjalan
mundur, dll
|
b.
Catatan Berkesinambungan (Running
Records)
Metode
observasi dan pencatatan lain adalah catatan
berkesinambungan. Catatan ini memuat kejadian secara rinci dan
berurutan. Pengamat mencatat semua kejadian terus menerus yang dilakukan
anak itu. Catatan Berkesinambungan
berbeda dengan catatan anekdot karena catatan berkesinambungan mencatat
semua perilaku anak bukan hanya sekedar peristiwa-peristiwa tertentu saja, dan
pencatatan dilakukan langsung, tidak menunda kemudian setelah pembelajaran
selesai.
Keuntungan dari catatan berkesinambungan adalah:
1)
Merupakan
catatan yang lengkap dan menyeluruh, tidak terbatas pada peristiwa-peristiwa
tertentu.
2)
Merupakan
catatan yang terbuka, yang dapat digunakan untuk mengamati apa saja tanpa
spesifikasi pada perilaku khusus.
3)
Tidak
membutuhkan pengamat yang memiliki ketrampilan khusus, karena itu sangat
berguna bagi pendidik.
Kerugian dari catatan berkesinambungan adalah:
1)
Catatan ini
memerlukan waktu yang lama. Pengamat tidak memiliki waktu lain selain hanya
mengamati dan mencatat perilaku anak saja.
2)
Cukup sulit
untuk mencatat semua hal dalam waktu yang panjang tanpa kehilangan rincian yang
meungkin juga penting.
3)
Sangat efektif
jika hanya mengamati seorang anak saja, tetapi jika harus melakukan pengamatan
terhadap sekelompok anak, apalagi jika kelompok besar, maka akan mengalami
banyak kesulitan.
4)
Pengamat
harus menjaga diri dari anak, yang kadang-kadang sulit jika pengamat
adalah guru yang sedang mengajar.
Berikut ini
contoh catatan berkesinambungan:
|
Hari/Tgl
|
Waktu
|
Kejadian/
Tempat
|
Peristiwa
|
Evaluasi
|
|
Senin,
01-03-10
|
08.00
|
Ikrar/
Halaman
|
Aza mengikuti Ikrar bersama guru dan teman-temannya. Selama
Ikrar, Aza diam saja sambil menundukkan
kepala.
|
Aspek perkembangan
sosio-emosional, dapat mengikuti rutinitas kelas
|
|
08.30
|
Sarapan/ Ruang kelas
|
Aza ikut duduk
melingkar dikarpet dan berdoa sebelum makan bersama guru dan teman-temannya.
Ketika guru mempersilahkan semua anak untuk membuka bekal dan memakannya, Aza diam saja hanya memandangi bekal
yang dibawanya. Ketika guru bertanya, ”Ada apa Aza? Ada yang bisa dibantu?”. Aza melihat kearah guru sambil menggelengkan kepala
kemudian menunduk kembali. Guru bertanya kembali, ”Kenapa Aza tidak makan bekalnya?”.Aza hanya menggelengkan kepalanya. ”Apa
Tiwi masih kenyang?” tanya guru kembali. Aza menganggukan kepala. Aza mengikuti doa setelah makan bersama guru dan
teman-temannya.
|
Aspek
perkembangan Agama dan Nilai moral, dapat berdoa sebelum dan setelah
kegiatan.
Aza tidak mengungkapkan perasaannya
dengan kata-kata (Asek perkembangan sosio-emosional, Mengenal perasaannya dan
mengelolanya dengan baik)
Mengapa Aza merasa tidak nyaman pagi ini?
(Guru perlu
berbicara dengan orangtua Aza untuk mendapatkan informasi)
|
|
|
09.00
|
Bermain di Taman
|
Aza bermain ayunan sendirian. Ketika salah satu temannya
mendekati dan bertanya, ”Boleh aku ikut main?”. Aza mendorong temannya tersebut. Temannya terjatuh dan
menangis, Aza memperhatikan temannya tapi diam
saja. Ketika guru bertanya apa yang terjadi. Aza pergi meninggalkan guru dan temannya. Guru memanggil
namanya berkali-kali, tapi Aza tetap
berjalan meninggalkan mereka dan masuk kedalam kelas.
|
|
|
|
09.30
|
Bermain di Sentra Balok
|
· Pijakan Awal
Aza duduk bersila di lingkaran bersama guru dan
teman-tamannya. Setiap guru berbicara dan menunjukkan balok serta konsep yang
dikenalkan,Aza memperhatikan. Aza menjawab setiap pertanyaan tentang balok dan konsep
bangunan yang diajukan guru. ”Apa yang kita perlukan bila ingin bangunan kita
menjadi kokoh?” tanya guru. ”Bangunannya harus padat” jawab Aza. ”Menurut Aza, agar bangunan kokoh, balok disusun secara padat. Ada
pendapat yang lainnya?” tanya guru. Aza menjawab
kembali, ”Pakai balok double unit”.
Aza memperhatikan
guru menyimpan tulisan nama anak di alas balok yang sudah ditata. Aza mendapat kesempatan kedua untuk
mencari tulisan namanya di alas balok. Setelah menemukannya, Aza duduk di atas alas menunggu semua
temannya menemukan alas bangunannya masing-masing.
· Pijakan Selama Main (Individual)
Guru memberi tanda, anak-anak bisa
mulai mengambil balok yang dibutuhkan. Arqi memilih 4
balok double unit. Aza membentuk
ruang dalam. Kemudian Aza mengambil
balok unit berulang-ulang dan ditumpuk diatas balok double unit, sehingga membentuk ruang tertutup. Beberapa balok
segitiga diletakkan berbaris di bagian tengah atas bangunan. Disalah satu
sisi bangunan, terlihat pola 1-1 dengan menggunakan balok segitiga dan unit.
sebuah ruang terbuka dibangun disamping bangunan pertama menggunakan balok double unit, unit, danhalf unit.
Diantara bangunan terlihat pola 1-1 terbentuk dengan menggunakan balok unit dan half unit. Aza memanfaatkan
hampir seluruh bagian alas mainnya.
Aza menggunakan
aksesoris, pohon plastik, boneka kayu binatang dan boneka orang yang
disediakan guru.
Ketika guru mendekati bangunan Aza, tanpa ditanya, Aza menceritakan bangunannya. ”Aku buat
rumah dan kolam renang” sambil tersenyum. ”O… Menarik sekali. Bu guru melihat
bangunannya kokoh, padat, horizontal, dan ada pola-pola disini. Bisa
ceritakan bagian-bagian lain disetiap bangunanmu?” tanya guru. Dian
mengangguk dan mulai bercerita, ”Ini pintunya, didalam rumahku ada tempat
tidur. Kolam renangnya luas dan airnya dalam. Aku bisa berenang di air yang
dalam. Kalau bu guru
mau berenang, izin dulu ya sama aku.” ”Tentu saja, bu guru senang dengan
tawaran Aza. Didalam kolam renangnya, bu guru
melihat ada bangunan berbentuk segi empat. Bisa ceritakan bangunan ini?” Aza menjawab, ” kolam kecil untuk adik
bayi”. Guru menguatkan jawaban Aza dengan
berkata, ”Jadi semua mendapat kesempatan berenang. Selamat ya Aza sudah berhasil membangun rumah dan
kolam renang yang kokoh”
· Pijakan Setelah Main
Saat beres-beres, Aza mengembalikan semua balok yang
digunakan kembali kerak sesuai bentuk dan ukuran.
Tiwi duduk bersama guru dan
teman-temannya mengikuti kegiatan recalling
dan review. Ketika tiba gilirannya
bercerita, menggelengkan kepala. Guru memotivasi dengan berkata, ”Aza, tadi bu guru melihat dan mendengar Aza membangun rumah dan kolam renang
yang kokoh. Boleh menceritakan lebih banyak agar teman-teman juga tahu”. Aza tetap menggelengkan kepalanya.
”Mungkin lain kali Aza mau
bercerita banyak tentang bangunannya”, kata bu guru.
|
|
|
|
11.00
|
Pulang
|
Aza mengikuti doa bersama setelah bermain. Guru memanggil
anak satu persatu untuk mengambil tas dan pulang bersama ibu atau
penjemputnya. Ketika tiba gilirannya, Aza mengambil
tas dan bergegas keluar menuju ibunya tanpa bersalaman dengan gurunya. Guru
memanggil untuk bersalaman, tapi Aza mempercepat
langkah dan memeluk ibunya. Aza mau
bersalaman dengan gurunya, setelah ibunya membujuk.
|
Karena catatan berjalan
mengamati banyak perilaku perkembangan yang penting dari seorang anak, maka
catatan berjalan dipilih sebagai metode yang digunakan bersama
dengan ceklis perkembangan untuk mengevaluasi perkembangan kemampuan anak.
c.
Catatan Specimen (Specimen Records)
Specimen Records hampir mirip dengan catatan
berkesinambungan tetapi lebih rinci. Catatan ini sering digunakan
oleh pengamat yang menginginkan uraian lengkap dari suatu perilaku khusus anak, misalnya perilaku
yang berkaitan dengan emosi anak. Sementara catatan berkesinambungan
lebih sering digunakan untuk mencatat perilaku anak secara umum, dengan tidak
formal. Pengamat yang membuat specimen records bukan
orang yang terlibat dalam kegiatan kelas dan harus menjaga jarak dari anak.
Seperti catatan bekesinambungan,
specimen records menulis secara naratif perilaku atau peristiwa
saat terjadi, tetapi uraian itu biasanya berdasarkan kriteria yang telah
ditentukan sebelumnya seperti waktu, anak, dan settingnya. Rincian
peristiwa yang akan dicatat tergantung pada tujuan observasi.
Berikut
adalah contoh specimen record:
|
CATATAN
SPECIMEN
Nama Anak : Aza
Hari/Tanggal : Senin, 01-03-2010
Usia
: 5
tahun
Pengamat : Bunda Guru
|
||
|
Aspek/Perilaku
|
Catatan
|
Evaluasi
|
|
Social-Emosional/ mengekspresikan
emosi (marah dan sedih)
|
· Aza berjalan kedalam kelas pagi ini dengan dahi berkerut
dan menghentakkan kakinya. Dia menundukkan kepalanya dan diam saja ketika
guru memberinya salam. Ketika salah satu temannya mendekati, Aza mendorong temannya sampai
terjatuh. Ketika guru bertanya alasannya dia mendorong, Aza memalingkan muka, sambil berkata,
”Huh..!”Kemudian menarik kursi dengan keras dan menghempaskan tubuhnya.
Posisi duduk Dian melipat tangan didada dengan wajah cemberut.
· Aza mengikuti kegiatan Main Pembukaan bersama guru dan
teman-temannya. Kegiatan diawali dengan bernyanyi lagu ”Selamat Pagi”.
Melihat Aza hanya diam dan mengamati, guru
memotivasi, ”Pasti menyenangkan bernyanyi bersama. Aza mau ikut?” Aza menggelengkan kepala. ”Boleh tepuk tangan saja”
kata guru kembali. Aza tetap
menggeleng dan diam. Guru dan anak-anak sepakat bermain ”Ular Naga”. Aza keluar dari lingkaran dan berdiri
dipinggir mengamati. ”Ayo Aza, kita
bergabung membuat ular naga yang panjang. Menyenangkan lho”, kata guru. Aza diam saja sambil mengamati mereka
bermain. Guru terus
memotivasi, tapi Aza tetap
diam saja. Sampai selesai permainan dan berdoa sesudah ikrar, Aza tetap diam saja, tapi dia mau
masuk dalam lingkaran kembali.
· Aza ikut duduk melingkar dikarpet dan berdoa sebelum
makan bersama guru dan teman-temannya. Ketika guru mempersilahkan semua
anak untuk membuka bekal dan memakannya, Aza diam saja hanya memandangi bekal yang dibawanya.
Ketika guru bertanya, ”Ada apa Aza? Ada yang
bisa dibantu?” Aza melihat
kearah guru sambil menggelengkan kepala kemudian menunduk kembali. Guru
bertanya kembali, ”Kenapa Aza tidak
makan bekalnya?” Aza hanya menggelengkan
kepalanya. ”Apa Aza masih kenyang?”
tanya guru kembali. Aza
menganggukan kepala. Aza mengikuti
doa setelah makan bersama guru dan teman-temannya.
· Aza bermain ayunan sendirian. Ketika salah satu
temannya mendekati dan bertanya, ”Boleh aku ikut main?”. Aza mendorong temannya tersebut. Temannya
terjatuh dan menangis, Aza
memperhatikan temannya tapi diam saja. Ketika guru bertanya apa yang terjadi.
Aza pergi meninggalkan guru dan
temannya. Guru
memanggil namanya berkali-kali, tapi Aza tetap
berjalan meninggalkan mereka dan masuk kedalam kelas.
· Ketika bermain balok, Aza ikut bermain dan membangun balok
bersama anak yang lainnya. Aza menggunakan
cukup banyak balok dengan berbagai bentuk dan ukuran. Aza memberi nama bangunannya ”Rumah dan Kolam Renang”. Aza menceritakan bangunannya tanpa
diminta oleh guru. Aza membereskan
balok diklasifikasikan sesuai bentuk dan ukuran di raknya kembali. Saat recalling dan review, Aza tidak
menceritakan bangunannya. Aza mengikuti
doa setelah bermain balok bersama guru dan teman-temannya.
· Guru memanggil anak satu persatu
untuk mengambil tas dan pulang bersama ibu atau penjemputnya. Ketika tiba
gilirannya, Aza mengambil tas dan bergegas keluar
menuju ibunya tanpa bersalaman dengan gurunya. Gurunya memanggil untuk
bersalaman,”Aza, ibu mau bersalaman dengan Aza”. Tapi Aza mempercepat langkah dan memeluk Mamanya. Mamanya
berkata, ”Mama juga senang bersalaman dengan ibu. Aza mau bersalaman juga”. Awalnya Aza menggeleng, tetapi melihat mamanya bersalaman dengan
guru, Aza mau bersalaman.
|
·
Tidak mau
menjawab salam (moral/agama: 1)
·
Perilaku
penonton (tahap main sosial: 1) saat main pembukaan.
·
mau mengikuti
bacaan doa sebelum makan (Moral/Agama: 2)
|
d. Time Sampling
record
Metode time sampling memerlukan observasi yang
menunjukkan kekerapan suatu perilaku terjadi. Perilaku harus terjadi sering
(paling sedikit sekali setiap 15 menit). Misalnya: perilaku berbicara, memukul
atau menangis dapat diamati dan dihitung dengan mudah. Perilaku
memecahkan masalah tidak dapat diamati menggunakan metode ini, karena
perilaku seperti itu tidak jelas bagi pengamat dan tidak dapat dihitung
dengan mudah.
Time sampling dilakukan
untuk mengamati perilaku khusus dari seorang anak atau kelompok dan
mencatat ada atau tidaknya perilaku tersebut dalam interval waktu
yang sudah ditentukan untuk diamati. Pengamat harus mempersiapkan diri untuk
memanfaatkan waktu yang telah terjadual, dan menentukan jenis perilaku
yang akan diamati, jarak waktu kemunculan perilaku yang akan diamati, dan
catatan ada atau tidak adanya perilaku tersebut.
Berikut ini
adalah contoh time sampling record:
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Time sampling merupakan
metode yang sangat berguna jika digunakan untuk mengamati anak dengan
alasan-alasan berikut :
1)
Membutuhkan
waktu dan usaha yang tidak terlalu banyak dibandingkan catatan narasi.
2)
Lebih obyektif
dan terkontrol karena perilaku yang diamati spesifik dan dibatasi.
3)
Memungkinkan
pengamat mengumpulkan data dari sejumlah anak ataupun sejumlah perilaku dalam
satu kali waktu observasi.
4)
Memberikan
informasi yang berguna dalam interval waktu dan frekuensi dari
perilaku tertentu.
5)
Memberikan
hasil kuantitatif yang berguna untuk analisa statistik.
Di samping itu,
ada kerugian menggunakan time sampling
yaitu:
1)
Metode bukan metode terbuka, sehingga memungkinkan kehilangan banyak
perilaku yang penting.
2)
Tidak menjelaskan perilaku, sebab dan hasil, karena lebih berfokus pada
waktu (kapan dan berapa lama suatu perilaku terjadi)
3)
Tidak menyimpan data tentang masukan-masukan perilaku, karena
prinsip metode ini hanya pada interval waktu, bukan perilaku.
4)
Perilaku di
luar konteks karena itu mungkin bisa bias.
5)
Terbatas
untuk perilaku yang diamati yang sering terjadi
6)
Biasanya
berfokus pada satu jenis perilaku (dalam kasus ini perilaku negatif) dan
bisa mengakibatkan pandangan yang bias.
e.
Event Sampling Record
Event sampling adalah suatu
metode yang memberikan kesempatan kepada pengamat untuk menunggu dan kemudian
mencatat perilaku khusus yang sudah dipilih lebih dulu. Event sampling digunakan untuk
mempelajari kondisi di mana perilaku tertentu terjadi atau sering
terjadi.
Keuntungan menggunakan event sampling adalah :
1)
Mencatat
peristiwa dengan utuh, sehingga membuat analisa lebih mudah.
2)
Lebih obyektif
dibandingkan metode yang lain, karena perilaku telah ditentukan sebelumnya.
3)
Sangat menolong
untuk menguji perilaku yang tidak sering terjadi.
4)
Pengamat
terlebih dulu perlu menentukan perilaku yang ingin diamati, kemudian mempersiapkan
setting yang memungkinkan perilaku itu muncul dan akan digunakan untuk
mengamati perilaku tersebut. Pengamat perlu mengambil posisi yang nyaman bagi
dia untuk mengamati, menunggu sampai muncul perilaku tersebut dan mencatatnya.
5)
Pencatatan dapat
dilakukan dalam berbagai cara, tergantung dari tujuan observasi. Jika
pengamat sedang mempelajari penyebab atau hasil dari perilaku tertentu, maka
menggunakan ”ABC” Analisis. ABC analisis merupakan uraian singkat dari
peristiwa keseluruhan, yang dibagi menjadi 3 bagian (peristiwa pencetus,
perilaku, konsekuensi). Setiap saat peristiwa terjadi, saat itu juga
dicatat.
Kerugian
menggunakan event sampling adalah:
1)
Peristiwa ke
luar dari konteks dan bisa kehilangan beberapa peristiwa yang juga penting
untuk diinterpretasikan.
2)
Merupakan
metode tertutup yang hanya mengamati perilaku tertentu dan mengabaikan perilaku
yang lain.
3)
Kehilangan
kekayaan informasi detail dibandingkan catatan
anekdot dan running records.
Berikut ini contoh
event sampling :
|
f.
Checklist (ceklis)
Checklist merupakan alat
perekam hasil observasi terhadap perkembangan anak. Melalui checklist dapat diketahui tingkat
perkembangan anak sehingga dapat menjadi pedoman dalam mengembangkan berbagai
rencana dan kegiatan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Cheklist merupakan format evaluasi yang
membantu guru dalam memfokuskan pengamatan, karena dalam format checklist guru
sudah menentukan tingkat pencapaian perkembangan yang akan diamati. Tingkat
pencapaian perkembangan yang akan diamati ini sesuai dengan tingkat pencapaian
perkembangan pada rencana harian yang digunakan untuk pembelajaran pada hari
itu.
Checklists
dapat digunakan sebagai alat rekam fakta setiap anak dalam
setiap observasi (setiap hari) tetapi juga dapat dipakai untuk mengkumulatifkan
data anak dalam suatu periode (rekap satu bulan). Checklists dapat digunakan oleh satu orang pengamat atau beberapa
pengamat yang akan menambahkan data Di samping itu juga dapat digunakan
untuk mentransfer rekaman dari anecdotal
record atau running record
sehingga memudahkan interpretasi. Karena lebih mudah untuk cek perilaku melalui
daftar ceklis dari pada membaca paragraf yang panjang.
Keuntungan
menggunakan checklist adalah:
1)
mudah, cepat,
dan efisien untuk digunakan
2)
Semua pengamat
dapat menggunakan dengan mudah, tidak membutuhkan spesialis.
3)
Dapat digunakan
saat anak ada atau tidak dengan meningat perilaku atau rekaman observasi
naratif.
4)
Beberapa
pengamat dapt mengumpulkan informasi yang sama untuk cek reliabilitasnya
5)
Ceklis membantu
memfokuskan observasi pada banyak perilaku dalam satu waktu
6)
Secara khusus
berguna untuk perencanaan individual.
Kerugian
menggunakan checklist adalah:
1.
bersifat
tertutup, melihat hanya perilaku khusus dan tidak pada setiap hal yang terjadi.
Kemungkinan akan kehilangan perilaku yang penting.
2.
Terbatas pada
ada atau tidak adanya perilaku
3.
Kurang
informasi tentang kualitas dan durasi perilaku
Berikut adalah contoh Ceklis Observasi Anak:
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
B.
Portopolio
(Kumpulan Hasil Karya Anak)
Portofolio
adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengamati perkembangan karya anak
dalam rangka melakukan evaluasi perkembangan belajar anak usia dini. Portofolio
merupakan salah satu wadah untuk merekam berbagai unjuk kerja atau bukti nyata
hasil belajar anak usia dini. Beberapa alasan penggunaan portofolio antara lain
adalah: (a) Membantu guru untuk merangkai berbagai bukti nyata dari hasil
belajar yang ditampilkan anak dalam berbagai bentuk karya; (b) Mendorong anak
mengambil manfaat dari hasil belajar yang dicapainya; (c) Membantu guru untuk
memahami profil perkembangan anak secara lebih lengkap dalam berbagai bidang
perkembangannya; (d) Memberikan gambaran tentang perkembangan dan hasil belajar
anak dari waktu ke waktu; dan (e) Merupakan sarana evaluasi hasil belajar anak
secara interaktif.
Portofolio
sebagai wadah pengumpul unjuk kerja hasil belajar anak usia dini perlu
dikembangkan secara lengkap. Hal ini disebabkan karena semakin lengkap isi
portofolio maka semakin lengkap data yang dapat dijadikan pedoman dalam
melakukan asesmen dan evaluasi tingkat perkembangan atau hasil belajar yang
telah dicapai anak.
Untuk
menunjukkan perkembangan dan hasil belajar anak dari waktu ke waktu, kumpulkan
hasil karya anak yang serupa selama periode tertentu, misalnya guru dapat
membandingkan tahap perkembangan menulis anak dengan mengumpulkan tulisan
anak-anak yang berusaha menuliskan namanya sendiri dari waktu ke waktu. Hasil karya anak
yang dapat dibandingkan dari waktu ke waktu dapat berupa:
·
Gambar,
lukisan, kolase, hasil gunting anak
· Tulisan (mulai
dari tulisan acak hingga dapat menulis sendiri /lihat tahapan menulis)
·
Buku yang dibuat anak
·
Grafik atau gambar kegiatan main
sains atau matematika
Beberapa
karya dan unjuk kerja anak akan lebih mudah dikumpulkan dengan menggunakan
kamera, misalnya:
·
Susunan bangunan balok
·
Patung atau bentuk-bentuk yang
dibuat dari playdough
·
Ronce merjan atau kerang, daun, dan
bahan alam lain yang dipilah atau dipola anak berdasarkan variabel warna,
bentuk, dan ukuran
·
Berdiri di atas panjatan
·
Mengendarai sepeda
·
Aktivitas motori anak lainnya baik
di dalam maupun di luar ruang
·
Melengkapi puzzle
·
Menggosok gigi
·
Beres-beres, dll
Guru juga dapat menggunakan alat
rekam untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan bahasa lisan anak. Bila
guru memiliki alat rekam video, maka dapat diperoleh informasi perilaku anak,
misalnya saat mereka tengah bermain peran, bermain musik, atau saat recalling.
Rekaman video ini memberikan data yang sangat akurat tentang apa yang
diucapkan dan dilakukan oleh anak.
Pengembangan
portofolio hendaknya mengikuti proses sebagai berikut: (1) Menentukan tujuan;
(2) Mengumpulkan dan menyusun berbagai data yang berkaitan dengan hasil belajar
anak; (3) Memilih hasil karya yang akan dijadikan kunci kemajuan perkembangan
anak; (4) Menentukan bagian-bagian yang perlu diberi komentar; (5) Memberikan
kesimpulan umum terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar anak.
Penyajian
karya anak dalam bentuk portofolio disusun dengan format: (1) Penyajian koleksi
karya anak (2) Refleksi dan evaluasi diri yang dikaitkan dengan kekuatan dan
kekurangan anak berdasarkan sajian hasil karyanya; dan (3) Kesimpulan.
Berikut contoh
pencatatan observasi hasil karya anak:
|
Hasil
Karya Anak
|
Uraian
Pendidik
|
|
|
Nama Anak: Shanumi
Tanggal: 21/5/2018
Perkembangan Menggambar:
Tahap 6
Gambar: “Kepala Besar” dengan kaki
dan bagian-bagian tubuh lainnya; khususnya tangan; mengambang di atas kertas.
Muncul awal tulisan. Huruf mengambang seperti garis-garis.
|
|
|
Nama Anak: Annees
Tanggal: 5/8/2008
Perkembangan Melukis:
Tahap 5
Melukis “Kepala Besar” dengan
kaki; mengambang di atas kertas.
|
|
|
Nama: Aza
Tanggal:
12/5/2018
Perkembangan
Meronce:
Tahap 5
Merangkai berdasarkan bentuk
|
|
|
Nama Anak: Ghozy
Tanggal: 12/5/2018
Perkembangan Menggunting:
Tahap 6
Menggunting pada garis tebal
dengan terkendali
|
|
|
Nama Anak:Dian
Tanggal: 18/8/2018
Perkembangan Membangun Balok:
Tahap
3: Susunan Garis Lurus Ke Samping
Anak
menempatkan balok-balok bersisian atau dari ujung ke ujung dalam satu garis.
|
|
|
Nama Anak: Devina
Tanggal:
12/8/2018
Perkembangan Main
Playdough:
·
Membentuk
pola orang dengan anggota tubuh lengkap.
·
Dapat
menceritakan bentuk yang dibuat
|
|
|
Nama Anak: Deva
Tanggal: 20
Juli 2018
Pekembangan
Menyusun Huruf dan Menulis Kata:
·
Menyusun
huruf menjadi satu kata
·
Menulis kata
dari huruf yang disusun
·
Menulis nama
sendiri
·
Mengklasifikasi
huruf
·
Menyimpan
hasil tulisan
|
Kumpulan hasil karya anak ini pada
awalnya hanya sedikit namun seiring dengan waktu akan menjadi sangat banyak.
Oleh karena itu guru harus memiliki wadah penyimpan dan sistem yang teratur
untuk mengelolanya. Bila tidak memungkinkan untuk membeli folder, maka
guru dapat memanfaatkan kotak atau kardus bekas atau dapat membuat kantong,
amplop, map atau wadah dari kertas poster dan bahan bekas lain, selanjutnya
susun karya anak berdasarkan urutan tanggal dan cantumkan pada setiap wadah
nama anak serta susun secara alfabetis sesuai nama anak untuk memudahkan
pemanfaatannya.
Portofolio anak dapat juga disusun berdasarkan aspek
perkembangan, yakni perkembangan sosio-emosional, kognitif, bahasa, dan fisik
anak, misalnya:
·
Perkembangan sosio-emosional, berupa
catatan guru dan catatan anekdot mengenai interaksi anak dengan
kelompoknya (kemampuan memilih, memecahkan masalah dan kerja sama dengan orang
lain), serta rekaman video ketika sedang melakukan kegiatan bersama.
·
Perkembangan kognitif, berupa foto-foto
tentang aktivitas anak ketika menghitung dan mengukur bahan-bahan untuk
kegiatan memasak, sampel kerja anak yang menunjukkan anak memahami konsep
angka, foto dan data yang diperoleh dari ceklis dan rekaman wawancara mengenai
pemahaman konsep, eksplorasi, hipotesis, dan pemecahan masalah
·
Perkembangan bahasa, berupa rekaman
anak ketika membaca cerita yang ditulis, rekaman wawancara tentang penguasaan
perbendaharaan kata dan keterampilan menggunakan bahasa.
·
Perkembangan fisik, berupa catatan
guru atau rekaman video tentang aktivitas gerakan anak baik di dalam kelas
maupun di luar kelas yang merupakan perkembangan keterampilan motorik, catatan,
foto, rekaman video, catatan anekdot yang menunjukkan keterampilan anak dan
kemajuan aktivitas musik dan permainan jari jemari.
IV.
TAHAP EVALUASI
A. Pengumpulan Data/informasi
Pengumpulan data dan informasi
tentang perkembangan anak dilakukan setiap hari dengan melakukan pengamatan
langsung terhadap sikap dan perilaku anak. Berikut ini contoh format evaluasi
harian yang menggabungkan ceklis dan catatan secara naratif.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Data harian yang sudah terkumpul
selanjutnya dirangkum kedalam data bulanan.
Berikut contoh format
rangkuman data bulanan.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
B. Pelaporan Perkembangan
Hasil observasi perkembangan anak
yang sudah dirangkum dalam format bulanan dipakai sebagai bahan untuk membuat
laporan hasil evaluasi perkembangan anak yang diberikan kepada orangtua.
Laporan hasil evaluasi perkembangan
ditulis dalam bentuk uraian singkat, ditambah dengan keterangan tentang kehadiran,
pertumbuhan berat dan tinggi badan serta rekomendasi untuk orangtua
Laporan yang ditulis guru hendaklah
dalam kalimat positif, jelas, mudah dipahami, serta menggunakan tata bahasa
dan ejaan yang benar. Adapun rambu-rambu penulisan laporan perkembangan
anak yang perlu diperhatikan guru adalah:
·
Tidak menyalahkan anak
·
Tidak menyalahkan orang tua
·
Pengaruh laporan terhadap
perasaan anak
·
Pengaruh
laporan terhadap perasaan orang tua
·
Pengaruh
laporan terhadap hubungan anak dan guru
·
Pengaruh laporan terhadap hubungan
anak dan orang tua
·
Informasi isi laporan sudah
menggambarkan aspek perkembangan dan pembelajaran yang esensial
·
Menggambarkan perilaku khusus
anak di kelas
·
Menggambarkan perkembangan dan
kemajuan anak
·
Lebih
fokus pada kemajuan dari pada kelemahan anak
·
Memuat contoh
perilaku khusus yang telah ditujukkan oleh anak
·
Menyajikan informasi yang
komunikatif, autentik, dan bermakna
·
Menginformasikan kepada orang tua tentang rencana guru
·
Orang tua tahu bahwa guru ada
dipihak anak
·
Laporan harus mendidik orang tua
tentang perkembangan
Berikut adalah
contoh laporan hasil evaluasi perkembangan anak:
Nama Anak
: Saqueena
Kelompok Usia :
3-4 tahun
Nomor
Induk
: 201000?
Semester
: II
Tahun Pelajaran : 2016/2017
I.
Informasi Perkembangan:
|
No
|
Aspek
Perkembangan dan Pencapaiannya
|
|
1.
|
Moral dan nilai-nilai agama
·
Sudah dapat mengikuti
bacaan doa sebelum belajar walaupun belum lengkap.
·
Sudah dapat
mengikuti gerakan sholat.
·
Hanya
sekali-kali menyebut beberapa contoh ciptaan Tuhan.
·
Selalu
mengucapkan terima kasih setelah menerima sesuatu, tetapi terkadang masih
perlu diingatkan.
·
Selalu
mengucapkan salam saat datang ke kelompok bermain.
|
|
2.
|
Fisik/Motorik
·
Sudah dapat
berjalan dan berlari dengan stabil.
·
Dapat
naik-turun tangga tanpa berpegangan, tetapi belum menggunakan dua kaki secara
bergantian.
·
Dapat
melompat dengan dua kaki sekaligus, tetapi masih kesulitan untuk melompat
dengan satu kaki bergantian.
·
Dapat
menendang bola tetapi masih kesulitan untuk menangkap bola dengan jarak 1 m.
|
|
3.
|
Bahasa
·
Dapat
menirukan suara benda jatuh dan suara beberapa jenis binatang.
·
Dapat
berbicara runtut dengan 4-5 suku kata.
·
Dapat
memahami dan melaksanakan 2 perintah sekaligus.
|
|
4.
|
Kognitif
·
Mampu
mengelompokkan benda yang sejenis.
·
Mamu
menyebutkan 4 bentuk geometri.
·
Mampu
membedakan ukuran besar-kecil dan panjang-pendek.
|
|
5.
|
Sosial-emosi
·
Dapat
menunjukkan ekspresi wajah sedih, senang, dan takut.
·
Dapat
berkonsentrasi mendengarkan cerita 3-4 menit.
·
Sudah dapat
antri minum dan ke toilet dengan tertib.
|
|
6.
|
Tahap Main
|
|
Main Balok
·
Sudah pada
tahap 9; ruang tertutup tiga dimensi, dapat membuat atap pada bangunan
seperti kotak terbuka, menjadi ruang tertutup tiga dimensi
|
|
|
Melukis
·
S sudah pada tahap 5; melukis ”kepala
besar” dengan kaki, mengambang di atas kertas
|
|
|
Menggambar
· Sudah pada
tahap 5; menggambar ”kepala besar” dengan kaki, mengambang di atas kertas
|
|
|
Menggunting
·
Sudah pada
tahap 5; menggunting bentuk tetapi tidak pada garis
|
|
|
Meronce
·
Ssudah pada tahap 3; merangkai terus
menerus
|
|
|
Menulis
·
Ssudah pada tahap 4; berlatih huruf
|
|
|
Main Peran
·
Sudah pada
tahap ”pengganti”; menggunakan obyek seadanya dalam cara yang kreatif atau
sesuai khayalan, atau menggunakan obyek dalam cara yang berbeda dari biasanya
|
|
|
Sosialisasi
·
Sudap pada
tahap ”sosial berdampingan”, main dekat dengan teman lainnya; terlibat dalam
permainannya sendiri tetapi senang dengan kehadiran anak lainnya.
|
II.
Informasi Pertumbuhan dan Kehadiran:
|
1.
|
Berat Badan
Selalu
naik tetapi mendekati garis kuning pada KMS.
|
|
2.
|
Tinggi Badan
Bertambah
secara normal.
|
|
3.
|
Kehadiran
Tidak Hadir:
5 hari
Terlambat: 2
hari
|
III. Rekomendasi untuk Orangtua
|
1. Bisa diajak mengikuti ritual
keagamaan sederhana seperti sholat, baca doa pendek, dan menyebut nama Allah
dengan tepat.
2. Perlu banyak diajak main gerakan
motorik kasar seperti berlari, melompat, dan menangkap bola.
|
|
Tanggal, Paraf, dan Nama Pendidik
|
Tanggal, Paraf dan Nama Orang Tua
|
|
Jakarta, 24 Maret 2017
(...........................)
|
(_______________)
|
V.
KESIMPULAN
Evaluasi perkembangan anak usia dini
merupakan proses pengumpulan data melalui observasi yang dicatat dan
didokumentasikan, sehingga melalui data hasil observasi yang tercatat tersebut
dapat disimpulkan perkembangan dan belajar anak. Ada banyak alat dan cara
evaluasi khusus untuk mengevaluasi macam-macam perilaku dan ungkapan bahasa
anak. Akan tetapi, cara yang paling tepat untuk mengevaluasi emosi dan perilaku
sosial anak adalah melalui observasi secara alamiah, seperti perilaku hubungan
antara anak dan pengasuh utamanya sewaktu bermain. Saat anak menunjukan
perilaku yang tidak baik atau saat ia berada di situasi tertekan lebih
baik dievaluasi melalui observasi dan didokumentasikan dengan catatan-catatan
tertulis secara ringkas. Dalam melakukan evaluasi terhadap perkembangan anak,
kita juga dapat melakukan wawancara langsung untuk mendapatkan informasi latar
belakang anak kepada keluarga mereka.
Situasi proses evaluasi difokuskan
pada aspek yang akan dievaluasi, minat anak serta umur anak. Saat bermain adalah
situasi yang ideal untuk mengadakan evaluasi yang lebih terfokus pada anak usia
dini, termasuk anak yang berkebutuhan khusus.
Evaluasi perkembangan melalui
observasi, dilakukan saat anak beraktivitas bermain. Langkah-langkah terakhir
untuk menginterpretasi data-data yang tercatat mengenai anak-anak adalah dengan
membuat kesimpulan. Ringkasan-ringkasan itu tergantung dari pendapat yang
berdasarkan kesimpulan yang sahih dan juga dari tumpukan-tumpukan bukti
observasi.
EVALUASI
Setelah membaca
modul ini, jelaskan dengan singkat apa yang Anda ketahui tentang:
1.
Pengertian
evaluasi perkembangan
2.
Tujuan evaluasi
perkembangan
3.
Prinsip-prinsip
evaluasi perkembangan
4.
Pedoman
pencatatan observasi
5.
Tehnik evaluasi
dengan menggunakan portofolio
6.
Tehnik evaluasi
dengan menggunakancatatan anekdot
7.
Tehnik evaluasi
dengan menggunakancatatan berkesinambungan
8.
Tehnik evaluasi
dengan menggunakan catatan specimen
9.
Tehnik evaluasi
dengan menggunakan event sampling
10. Tehnik evaluasi
dengan menggunakan time sampling
Kunci:
1.
evaluasi
perkembangan merupakan proses pengumpulan, penganalisisan, penafsiran, dan
pemberian keputusan tentang data perkembangan yang dikumpulkan melalui
observasi langsung.
2. Evaluasi
perkembangan dilakukan untuk mengetahui proses kegiatan yang telah
dilaksanakan, faktor-faktor penghambat maupun pendukung pencapaian tujuan
kegiatan, serta untuk mengetahui tingkat keberhasilan.
3.
Prinsip
evaluasi perkembangan adalah;
a.
Menyeluruh
Menyeluruh artinya evaluasi dilakukan baik terhadap
proses maupun hasil kegiatan anak.
b.
Berkesinambungan
Evaluasi yang berkesinambungan adalah apabila dilakukan
secara bertahap dan terus-menerus untuk memperoleh gambaran menyeluruh
terhadap hasil pembelajaran
c.
Obyektif
Evaluasi dilakukan seobyektif mungkin dengan
memperhatikan perbedaan dan keunikan perkembangan anak.
d.
Mendidik
Hasil evaluasi harus bersifat mendidik yaitu dapat
digunakan untuk membina dan memberikan dorongan kepada anak didik dalam
meningkatkan kemampuannya sehingga anak dapat mengembangkan “rasa berhasil”
nya..
e.
Kebermaknaan
Hasil evaluasi harus bermakna bagi guru/pamong
belajar, orang tua, anak didik dan pihak yang memerlukan. Oleh karena itu dalam
memberikan laporan evaluasi harus diusahakan yang dapat dipahami oleh semua
pihak.
4.
Pedoman
Pencatatan observasi adalah harus bersifat obyektif, apa-apa yang dicatat harus
berupa fakta yang ada, tanpa melakukan penilaian, asumsi, atau kesimpulan.
5.
Portofolio
adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengamati perkembangan karya anak
dalam rangka melakukan evaluasi perkembangan belajar anak usia dini. Portofolio
merupakan salah satu wadah untuk merekam berbagai unjuk kerja atau bukti nyata
hasil belajar anak usia dini.
6.
Catatan Anekdot adalah catatan
kejadian khusus yang merupakan uraian tertulis mengenai perilaku yang
ditampilkan oleh anak dalam situasi khusus. Catatan anekdot ditulis dengan
singkat. Catatan anekdot menjelaskan sesuatu yang terjadi secara faktual
(sesuai dengan apa yang dilihat dan didengar), dengan cara yang obyektif (tidak
berprasangka, tidak menduga-duga), menceritakan bagaimana, kapan dan di mana
terjadi peristiwa itu, serta apa yang dikatakan dan dikerjakan anak.
7.
Catatan
berkesinambungan memuat kejadian secara rinci dan berurutan. Pengamat
mencatat semua kejadian terus menerus yang dilakukan anak itu. Catatan Berkesinambungan mencatat semua
perilaku anak bukan hanya sekedar peristiwa-peristiwa tertentu saja, dan
pencatatan dilakukan langsung, tidak menunda kemudian setelah pembelajaran
selesai.
8.
Specimen Records hampir mirip dengan catatan
berkesinambungan tetapi lebih rinci. Catatan ini sering digunakan
oleh pengamat yang menginginkan uraian lengkap dari suatu perilaku khusus anak, misalnya perilaku
yang berkaitan dengan emosi anak. Pengamat yang membuat specimen
records bukan orang yang terlibat dalam kegiatan kelas dan
harus menjaga jarak dari anak.
9.
Event sampling adalah suatu
metode yang memberikan kesempatan kepada pengamat untuk menunggu dan kemudian
mencatat perilaku khusus yang sudah dipilih lebih dulu. Event sampling digunakan untuk
mempelajari kondisi di mana perilaku tertentu terjadi atau sering
terjadi.
10. Time sampling dilakukan
untuk mengamati perilaku khusus dari seorang anak atau kelompok dan
mencatat ada atau tidaknya perilaku tersebut dalam interval waktu
yang sudah ditentukan untuk diamati. Pengamat harus mempersiapkan diri untuk
memanfaatkan waktu yang telah terjadual, dan menentukan jenis perilaku
yang akan diamati, jarak waktu kemunculan perilaku yang akan diamati, dan
catatan ada atau tidak adanya perilaku tersebut.
TAHAP EVALUASI
1. Pengumpulan data/Informasi
2. Pelaporan perkembangan
Komentar
Posting Komentar