CONTOH EVALUASI PROGRAM


BAB II
KAJIAN TEORITIK

A.   Konsep Evaluasi Program
1.    Pengertian Evaluasi
Istilah evaluasi merupakan kata yang sering dipakai dan didengar dalam hidup manusia. Hampir dalam seluruh lini kehidupan manusia sebetulnya membutuhkan apa yang disebut dengan evaluasi. Memang sering ditemukan ada istilah atau sebutan lain yang sama artinya  dengan evaluasi, seperti refleksi, merenung dan lain-lain. Intinya tetap sama yakni manusia perlu mengevaluasi dirinya, kelompok, organisasi, lembaga dan lain-lain sesuai dengan tujuan dari evaluasi itu sendiri yakni untuk mengelola sesuatu menjadi lebih baik.
Seberapa besar suatu tujuan atau sasaran telah dicapai dapat ditentukan dengan cara menilai, membandingkan dan mengukur, berdasarkan informasi dan catatan-catatan yang dikumpulkan. Sehingga evaluasi digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan informasi dalam mengambil suatu keputusan. Dede Rosyada mengemukakan bahwa evaluasi adalah sebuah proses mulai dari menggambarkan, mendapatkan dan memaparkan berbagai informasi yang berguna untuk menetapkan sebuah pilihan putusan. (Rosyada, 2004: 188) Keputusan yang dibuat berdasarkan pada informasi yang valid, berdasarkan pada kumpulan-kumpulan data/informasi yang diperoleh sebelumnya.
Ada berbagai pendapat lain mengenai pengertian evaluasi yang dikemukakan oleh para pakar atau lembaga evaluasi maupun tim evaluasi yang menganggap keberadaan evaluasi sebagai titik penting dalam kinerja lembaga yang bersangkutan, antara lain dari departemen evaluasi World Vision International sebuah Intenrational Non Governmental Organisation / INGO yang bergerak di bidang kemanusiaan yang menyatakan bahwa evaluasi adalah sebuah kegiatan dalam satu kurun waktu yang mencoba untuk menilai secara sistematis dan obyektif ; relevansi,kinerja dan keberhasilan, atau kekurangan dari program dan proyek yang sedang berjalan atau yang sudah selesai. (World Vision International Indonesia : 94) Lembaga ini menekankan relevansi, kinerja dan keberhaislan, atau kekurangan dari suatu program yang sedang berjalan.
Dalam sebuah program yang tengah berjalan, maka kebutuhan informasi akan kondisi program merupakan suatu hal yang sangat diperlukan bagi organisasi atau lembaga yang menggagasnya. Kebutuhan akan data atau informasi dapat diketahui melalui evaluasi, sebagaimana Patton menyatakan bahwa proses evaluasi dimaksudkan untuk menguraikan dan memahami dinamika internal berjalannya suatu program. (Patton, 2014 : 30) Lain hal yang dikemukakan oleh The Joint Committee on Standards for Educational Evaluation sebagaimana dikutip Stufflebeam dan Shinkfield, menyatakan evaluasi sebagai the systematic assessment of the worth or merit of an object. (Stufflebeam, 2007 : 9) Kegiatan evaluasi dapat menggali informasi mengenai kualitas dan manfaat dari suatu kegiatan.
Senada dengan Stufflebeam dan Shinkfield yang menegaskan pentingnya mengetahui kualitas dan manfaat suatu kegiatan, Scriven pun demikian. Ahli ini khusus membuat penekanan terhadap tiga aspek yang mana menurutnya perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi terhadap suatu kegiatan. Evaluasi menurutnya merupakan the process of determining the merit or worth or value of something ; or the product of the process. (Scriven, 1981: 33). Menurut Tyler, evaluasi as the process of determining whether the objectives of a program have been achieved-congruence between performance and objectives. (A. Berk, 1981: 4) Evaluasi merupakan proses menentukan apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan tujuan / sasaran yang ditetapkan.
Terkait implementasi standar PAUD, maka evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan yang perlu dilakukan untuk mengetahui sejauhmana program standar PAUD dilaksanakan, apakah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan, bagaimana kualitasnya, apakah bermanfaat bagi target/sasaran dalam jangkauan yang lebih luas sebagaimana program digagas atau direncanakan. Andrews dan Werner, menyatakan to evaluate is to make an explicit judgement about the worth of all part of a program by collecting evidence to determine if acceptable standards have been met.
(http://hostedweb.cfaes.ohio-state.edu/brick/suved2. htm#What%20is%20evaluation (diakses Kamis, 22 November 2012). Pengumpulan data dilakukan untuk menilai program apakah telah sesuai dengan standar.
Evaluasi adalah pengukuran terhadap konsekuensi yang diinginkan dan tidak diinginkan dari suatu kegiatan yang harus diambil guna menyampaikan beberapa tujuan yang diyakini. Ada konsekuensi logis di setiap program ataupun kegiatan baik itu positif maupun negatif. Hal ini dapat dilihat dari pengertian yang diberikan oleh Riecken seperti yang dikutip Suchman, evaluasi merupakan the measuremenet of desirable and undesirable consequences of an action that has been taken in order to forward some goal that we value. (Ibid : 29) Maclcolm, Provus pencetus Discrepancy Evaluation seperit yang dikutip Tayibnapis, mendefinisikan evaluasi sebagai perbedaan apa yang ada dengan suatu standar untuk mengetahui apakah ada selisih.
Menurut Suchman dalam Anderson sebagaimana dikutip Arikunto memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan. Hasil evaluasi dipandang dapat memetakan sejauhmana suatu program telah dikerjakan dan memprediksi tingkat keberhasilan berikutnya sehingga dapat memenuhi tujuan yang ditetapkan.
Worthen dan Sanders menempatkan evaluasi sebagai proses untuk menentukan nilai dari suatu kegiatan atau program dan memberikan beberapa penekanan kepada penggunaan inquiry dan metode dalam pengambilan keputusan. Mereka merumuskan evaluasi sebagai :
Evaluation is the dermination of a thing’s evalue. In education, it is the formal determination of the quality, effectiveness or value of a program, product, project, process, objective, or curriculum. Evaluation uses inquiry and judgement methods, including ; (1) determining standards for judging quality and deciding whether those standards should be relative or absolute, (2) collecting relevant information, and (3) applying the standarads to determine quality). (Ibid : 31)

Evaluasi dilihat sebagai penentuan nilai kualitas dari sesuatu, dalam pendidikan maka penilaian dilakukan untuk melihat kualitas, efektivitas, atau nilai dari suatu program, produk, proyek,proses maupun kurikulum.
Lebih lanjut dalam suatu kegiatan evaluasi tentunya mempunyai arah dan tujuan mengapa kegiatan evaluasi dilakukan. Tujuan evaluasi adalah menghasilkan informasi atau data tentang keadaan sebuah program atau kegiatan yang berguna bagi pengambilan keputusan. Hal ini dinyatakan Berk, bahwa eevaluasi sebagai the process of providing information for decision making (Berk,1981: 4) atau proses menyediakan informasi bagi pengambilan keputusan. Suatu keputusan diambil berdasarkan informasi atau fakta yang diperoleh.
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disintesiskan bahwa evaluasi merupakan suatu proses untuk menilai suatu program apakah telah sesuai dengan standar yang ditetapkan atau belum, bagaimana kualitasnya, apakah program membawa manfaat bagi sasaran program dan kemudian dibuat suatu keputusan tentang program tersebut.

2.    Pengertian Evaluasi Program
Sebelum menguraikan lebih jauh tentang evaluasi program, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksudkan dengan program itu sendiri. Menurut Arikunto dan Abdul Jabar, ada dua pengetian untuk istilah program, yaitu pengertian secara khusus dan umum. Secara umum, program diartikan sebagai “rencana”, dan mendefinisikan evaluasi program sebagai upaya untuk mengetahui efektivitas komponen program dalam mendukung pencapaian tujuan program. (Arikunto, 2014 : 3) Sebagaimana suatu rencana maka program dapat dievaluasi untuk mengetahui sejauhmana efektivitas komponen-komponen didalamnya.
Program juga didefinisikan sebagai kegiatan atau aktivitas yang dirancang untuk melaksanakan kebijakan dan dilaksanakan untuk waktu yang tidak terbatas. (Wirawan, 2012 : 17). Program sebagai bagian dari sebuah policy, proses implementasinya membutuhkan waktu yang panjang.
Jika program dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai :
Suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. (Arikunto, 2014 : 4)

Program dilihat sebagai bagian dari suatu kebijakan atau regulasi yang membutuhkan keterlibatan banyak orang dalam implementasinya. Hal penting lainnya adalah berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, ini dapat berarti suatu program dilaksanakan terus menerus dan proses ini secara tidak langsung memuat siklus sebuah program yang biasanya terdiri atas : perencanaan, implementasi, pengawasan (monitoring), evaluasi, refleksi dan seterusnya berulang.
Wirawan menyatakan evaluasi program dapat dikelompokkan menjadi evaluasi program (process evaluation), evaluasi manfaat (outcome evaluation) dan evaluasi  akibat (impact evaluation). (Wirawan, 2012 : 17) Dalam evaluasi proses, yang diteliti dan dinilai adalah intervensi atau layanan program apakah telah dilaksanakan seperti yang direncanakan, termasuk menilai tentang strategi pelaksanaan program. Sedangkan evaluasi manfaat terutama meneliti, menilai, dan menentukan apakah program telah menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Suatu program dikatakan berhasil apabila sesuai dengan standar atau melebihi standar. Keberhasilan suatu program tanpa melalui proses evaluasi pasti akan diragukan kebenarannya. Menurut Purwanto, evaluasi program adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan program. (Purwanto, 2014 : 25) Rutman memandang evaluasi program adalah penerapan metode-metode ilmiah untuk mengukur implementasi dan hasil program untuk pengambilan keputusan. (Rutman, 1984 : 23) Sedangkan Brinkerhoff menyatakan bahwa evaluasi program adalah : (1) proses menentukan sejauhmana tujuan dan sasaran program telah terealisasi, (2) memberikan informasi untuk pengambilan keputusan, (3) perbandingan kinerja dengan patokan-patokan tertentu untuk menentukan apakah terdapat kesenjangan, (4) penilaian tentang harga dan kualitas,(5) investigasi sistematis mengenai nilai atau kualitas suatu objek. (Brinkerhoff, 1983 : xiv). Dari tiga pengertian di atas, terdapat unsur yang sama yaitu kegiatan untuk mengetahui berhasilnya suatu program guna penyiapan informasi bagi pengambilan keputusan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka  dapat disintesiskan bahwa evaluasi program adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program dibandingkan dengan sasaran awal yang ditetapkan. Dalam pelaksanaannya evaluasi program membutuhkan metode-metode ilmiah yang dapat mendukung kegiatan pengumpulan data atau informasi sehingga dapat dipertanggungjawabkan dalam pengambilan sebuah keputusan.

3.    Model-model Evaluasi Program
Kata model berarti pola, rencana, contoh dari sesuatu yang akan dibuat atau dilakukan, atau dihasilkan. Suatu model evaluasi sebetulnya menentukan jenis evaluasi apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana proses melaksanakan evaluasi tersebut. Model evaluasi membedakan antara evaluasi dengan penelitian murni dan penelitian terapan lainnya. (Wirawan, 2012 : 80) Sutfflebeam dan Shinkfield menyatakan bahwa  a program evaluation model as an evaluation theorist’s idealized conceptualization for conduting program evaluation. (Stufflebeam, 2007 : 63) Artinya model evaluasi program adalah suatu konsep ideal teori evaluasi untuk melakukan evaluasi program. Tayibnapis mengemukakan bahwa model evaluasi merupakan model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya atau tahap pembuatannya serta dianggap model standar. (Tayibnapis, 2008 : 13) Dengan demikian dapatdiartikan bahwa model evaluasi program merupakan suatu konsep ideal teori / model standar untuk melakukan evaluasi program yang dibuat  oleh para ahli evaluasi dan dinamakan sama dengan pembuatnya.
Banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para pakar, namun dalam penelitian ini akan membatasi pada model evaluasi yang banyak dikenal serta digunakan saja, antara lain goal free evaluation model yang dikembangkan oleh Scriven yang membagi evaluasi menjadi dua yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Menurutnya evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada waktu program masih berjalan. Sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan ketika program sudah selesai atau berakhir. (Arikunto, 2014 : 41) Oleh karena itu kegiatan evaluasi dapat dilakukan saat program dilaksanakan (on going) dan pasca implementasi program.
Selanjutnya adalah Robert E. Stake yang mengembangkan model evaluasi bernama countenance evaluation model. Stake membagi evaluasi menjadi tiga tahapan, (Arikunto, 2014 : 43) yaitu (1) antecedents berupa sumber /model / input seperti tenaga, keuangan, karakteristik siswa dan tujuan, (2) transaction berupa rencana kegiatan dan proses pelaksanaan termasuk urutan kegiatan dan proses pelaksanaan termasuk urutan kegiatan, penjadwalan waktu, bentuk interaksi guru murid, menilai hasil belajar dan sebagainya, (3) outcome berupa hasil yang dicapai, reaksi guru, efek samping dari sistem dan sebagainya.
Disamping kedua model di atas terdapat juga model CSE-UCLA yang merupakan singkatan dari Center for the Study of Evaluation dan University of California in Los Angeles. Pusat studi evaluasi ini membagi evaluasi ke dalam lima tahap yaitu perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil dan dampak. (Tayibnapis, 2008 : 15) Selain itu ada model CIPP yakni context, input, process dan product yang dikembangkan oleh Daniel L.  Stufflebeam. Menurut model ini evaluasi dibagi ke dalam empat dimensi, yaitu (1) context yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan, misalnya keadaan ekonomi negara, pandangan hidup masyarakat dan sebagainya, (2) input yaitu sarana / modal / bahan dan rencana strategi untuk mencapai tujuan, (3) process yaitu pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana /modal / bahan di lapangan, (4) product yaitu hasil yang dicapai selama dan akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersangkutan.
Model kelima atau model yang terakhir adalah yang dikenalkan oleh Malcolm M. Provus. Model evaluasi yang dikembangkan lebih dikenal dengan istilah disperancy model atau model kesenjangan. Model ini mengungkapkan empat dimensi evaluasi, yaitu (1) design yaitu rencana / sarana, (2) program operations yaitu proses pelaksanaan, (3) interim product yaitu hasil belajar jangka pendek, dan (4) terminal product yaitu hasil belajar jangka panjang.
Dari beberapa model yang disebutkan di atas dapat diketahui bahwa ada beberapa model yang menunjuk pada penekanan atau objek sasaran, dan yang sekaligus menunjukkan sasaran dan langkah-langkahnya. Arikunto dan Abdul Jabar menyatakan bahwa program apapun dapat dievaluasi dengan model evaluasi apa saja. (Arikunto, 2014 : 41) Maksudnya bahwa dalam melakukan evaluasi program evaluator dapat memilih atau memakai salah satu model evaluasi yang ada sesuai dengan jenis program yang akan dievaluasi. Pada dasarnya semua model evaluasi tepat untuk mengevaluasi program, namun tingkat ketepatannya berbeda antara model yang satu dengan yang lainnya tergantung pada tipe program itu sendiri yang terdiri atas tiga tipe, sebagiamana dikemukakan Arikunto dan Abdul Jabar yakni : (1) program pemrosesan, merupakan program yang kegiatan pokoknya mengubah data mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai hasil proses atau keluaran, (2) program layanan adalah kesatuan kegiatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan pihak tertentu sehingga merasa puas sesuai dengan tujuan program, dan (3) program umum, jenis program yang tidak tampak apa yang menjadi ciri utama. (Arikunto, 2014 : 41). Tipe program menentukan model evaluasi yang dipakai.
Khusus dalam penelitian ini dipilihkan model CIPP yakni context, input, process dan product yang dikembangkan oleh Stufflebeam. Pemilihan model evaluasi CIPP ini didasarkan bahwa program standar PAUD masuk dalam kategori program layanan mengingat product atau hasil dari program ini adalah untuk melayani target, dalam hal standar PAUD maka targetnya adalah peserta didik agar memiliki kesiapan sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Ada target (peserta didik) yang hendak dilayani oleh program standar PAUD dan model evaluasi CIPP tepat dan cocok diterapkan untuk mengevaluasi program layanan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN DESAIN INTRTUKSIONAL DICK AND CAREY

EVALUASI & ASSESMEN PENDIDIKAN: INTRUMEN TES & NONTES