REVOLUSI INDUTRI 4.0
Revolusi
Industri
Revolusi bisa diartikan sebagai
perubahan secara cepat atau perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang
atau di suatu tempat. Sementara Industri
artinya proses membuat atau menghasilkan suatu barang. Perubahan yang terjadi
di Inggris pada abad ke-18 merupakan perubahan dalam memproduksi barang-barang
dari penggunaan tenaga manusia kepada mesinmesin. Jadi Revolusi Industri adalah perubahan cara membuat atau menghasilkan
barang yang semula menggunakan tenaga manusia beralih ke tenaga mesin.
A.
Latar
Belakang Revolusi Industri
Istilah revolusi industri
diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Friedrich
Engels dan Louis-Auguste Blanqui
pada pertengahan abad ke-19. Tidak jelas penanggalan secara pasti tentang kapan
dimulainya revolusi industri. Tetapi T.S. Ashton mencatat permulaan revolusi
industri terjadi kira-kira antara tahun 1760-1830. Revolusi ini kemudian terus
berkembang dan mengalami puncaknya pada pertengahan abad ke-19 , sekitar tahun
1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan
perkembangan mesin tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut
berkembang mesin kombusi dalam serta mesin pembangkit tenaga listrik.
Revolusi Industri terjadi pada
pertengahan abad ke-18. Awalnya didahului oleh revolusi agraria. Ada dua tahap
revolusi agraria. Revolusi Agraria I adalah tahapan terjadinya perubahan
penggunaan tanah yang semula hanya untuk pertanian menjadi usaha pertanian,
perkebunan, dan peternakan yang terpadu. Revolusi Agraria II mengubah cara
mengerjakan tanah yang semula tradisional dengan penggunaan mesin-mesin atau
mekanisasi. Revolusi Industri terjadi di Inggris karena sebab-sebab berikut.
1. Situasi politik yang stabil.
Adanya Revolusi Glorius tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia
kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya
menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
2. Inggris kaya bahan tambang,
seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat
menunjang industri tekstil.
3. Adanya penemuan baru di bidang
teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi,
misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.
4. Kemakmuran Inggris akibat
majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar
untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang
cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan
mentah tersebut.
5. Pemerintah memberikan perlindungan
hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong
kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya lembaga ilmiah
Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan teknologi dan
industri bertambah maju.
6. Arus urbanisasi yang besar
akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka
industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.
B.
Proses
Revolusi Industri
Pada akhir abad Pertengahan
kota-kota di Eropa berkembang sebagai pusat kerajinan dan perdagangan. Warga
kota (kaum Borjuis) yang merupakan warga berjiwa bebas menjadi tulang punggung
perekonomian kota. Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam
perekonomian. Pertumbuhan kerajinan menjadi industri melalui beberapa tahapan,
seperti berikut.
1. Domestic System
Tahap
ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan rumah (home industri). Para pekerja
bekerja di rumah masing-masing dengan alat yang mereka miliki sendiri. Bahkan,
kerajinan diperoleh dari pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan
kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan jumlah barang yang dikerjakan. Dengan
cara kerja yang demikian, majikan yang memiliki usaha hanya membayar tenaga
kerja atas dasar prestasi atau hasil. Para majikan tidak direpotkan soal tempat
kerja dan gaji.
2. Manufactur
Setelah kerajinan industri
makin berkembang diperlukan tempat khusus untuk bekerja agar majikan dapat
mengawasi dengan baik cara mengerjakan dan mutu produksinya. Sebuah manufactur
(pabrik) dengan puluhan tenaga kerja didirikan dan biasanya berada di bagian
belakang rumah majikan. Rumah bagian tengah untuk tempat tinggal dan bagian
depan sebagai toko untuk menjual produknya. Hubungan majikan dengan pekerja
(buruh) lebih akrab karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih
sedikit. Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan
pesanan.
Factory System
Tahap factory system sudah merupakan industri yang menggunakan
mesin. Tempatnya di daerah industri yang telah ditentukan, bisa di dalam atau
di luar kota. Tempat tersebut untuk untuk tempat kerja, sedangkan majikan
tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran hasil industri diadakah
di tempat lain. Jumlah tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah puluhan, bahkan
ratusan. Barang-barang produksinya untuk dipasarkan.
Adanya penemuan teknologi baru,
besar peranannya dalam proses industrialisasi sebab teknologi baru dapat
mempermudah dan mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan
menghemat biaya. Penemuan-penemuan yang penting, antara lain sebagai berikut.
1.
Kumparan
terbang (flying shuttle) cipataan John Kay (1733). Dengan alat ini proses
pemintalan dapat berjalan secara cepat.
2.
Mesin
pemintal benang (spinning jenny) ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard
Arkwright (1769). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
3.
Mesin
tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund Cartwight
(1785). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
4.
Cottongin,
alat pemisah biji kapas dari serabutnya cipataan Whitney (1794). Dengan alat
ini maka kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.
5.
Cap
selinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan alat ini kain putih dapat dilukisi
pola kembang 200 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pola cap balok
dengan tenaga manusia.
6.
Mesin
uap, ciptaan James Watt (1769). Dari mesin uap ini dapat diciptakan berbagai
peralatan besar yang menakjubkan, seperti lokomotif ciptaan Richard Trevethiek
(1804) yang kemudian disempurnakan oleh George Stepenson menjadi kereta api
penumpang. Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap diciptakan olehRobert
Fulton (1814).
Mesin uap merupakan inti dari
Revolusi Industri sehingga James Watt sering dianggap sebagai Bapak Revolusi
Industri I'. Penemuan-penemuan baru selanjutnya, semakin lengkap dan
menyempurnakan. Hal ini merupakan hasil Revolusi Industri II dan III, seperti
mobil, pesawat terbang, industri kimia dan sebagainya.
C.
Dampak
Revolusi Industri
Revolusi industri telah
menimbulkan perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat Inggris.
Revolusi Industri memberikan bermacam dampak positif dalam bidang ekonomi,
sosial, politik dan ilmu pengetahuan. Secara umum, dampak revolusi industri bagi
kehidupan penduduk Inggris antara lain sebagai berikut.
1. Bidang Sosial
Akibat
berkembangnya industri, pusat pekerjaan berpindah ke kota. Terjadilah
urbanisasi besar-besaran ke kota. Para buruh tani pergi ke kota untuk menjadi
buruh pabrik. Kota-kota besar pun menjadi padat dan semakin sesak. Para buruh
hidup berjejal-jejal di tempat tinggal yang kumuh dan kotor. Tidak hanya itu,
dalam pekerjaan, mereka menjadi objek pemerasan majikan. Buruh bekerja
rata-rata 12 jam dalam sehari, namun tetap miskin. Kemiskinan berakibat
langsung pada meningkatnya kejahatan dan ketergantungan pada minuman keras.
Dampak lain adalah pengangguran, wanita dan anak ikut bekerja, dan kurangnya
jaminan kesejahteraan.
2. Bidang Ekonomi
Pengaruh Revolusi Industri
dalam bidang ekonomi ditandai dengan pembangunan daerah-daerah industri
dilakukan secara besar-besaran. Revolusi industri juga berpengaruh terhadap
munculnya kota-kota industri seperti Manchester, Liverpool, dan Birmingham.
Kemunculan kota-kota industri tersebut merupakan satu keniscayaan ketika
industri berkembang. Perkembangan pesat dalam bidang industri ternyata tidak
hanya bersifat kuantitas melainkan juga berpengaruh terhadap kualitas barang
industri yang meningkat tajam. Revolusi industri telah banar-benar mendorong warga
Inggris untuk memperbaiki segala sesuatu berhubungan dengan hasil pekerjaan
mereka.
3. Bidang Politik
Dampak Revolusi Industri dalam
bidang politik antara lain, (1) munculnya kaum borjuis sebab kemajuan industri
melahirkan orang-orang kaya baru yang merupakan penguasa industri. (2)
Tumbuhnya demokrasi dan nasionalisme. (3) Munculnya imperialisme modern, yaitu
upaya mengembangkan imperialisme yang berlandaskan kekuatan ekonomi, mencari
tanah jajahan, bahan mentah serta mengembangkan pasar bagi industrinya. (4)
Berkembangnya liberalisme yang awalnya hanya berkembang di Inggris ketika
berlangsung Revolusi Agraria dan Revolusi Industri. Dalam menentukan kebijakan
politik dan ekonomi, partai liberal sangat berpengaruh.
Bagi Indonesia, revolusi industri
memiliki dampak tersendiri. Revolusi Industri menimbulkan adanya imperialisme
modern yang bertujuan mencari bahan mentah, tenaga kerja murah, dan pasar bagi
hasil-hasil produksi. Perdagangan bebas melahirkan konsep liberalisme. Hal ini
mengimbas pada negara-negara koloni, seperti juga wilayah-wilayah di Asia yang
menjadi jajahan bangsa Eropa. Termasuk Indonesia.
Ketika Thomas Stamford Raffles,
gubernur jenderal dari Inggris, berkuasa di Indonesia (1811 – 1816), ia
berupaya memperkenalkan prinsip-prinsip liberalisme di Indonesia. Kebijakan
yang diberlakukannya, antara lain, memperkenalkan sistem ekonomi uang,
memberlakukan pajak sewa tanah untuk memberi kepastian siapa pemilik tanah,
menghapus penyerahan wajib, menghapus kerja rodi, serta menghapus perbudakan.
Ketika Inggris menyerahkan Indonesia ke tangan Belanda, dibuat perjanjian bahwa
Belanda akan tetap memberlakukan perdagangan bebas.
D. KETERKAITAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0
DENGAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Menristekdikti
menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan
dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya
saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih
inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan
meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT),
Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic,
mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan
perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data
literacy, technological literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan
pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0
dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan.
Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem
perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen
dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi
anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang
berkualitas.
3.
Persiapan sumber daya manusia khususnya
dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk
menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan
pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan
untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
4.
Terobosan dalam riset dan pengembangan
yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi,
Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat.
5.
Terobosan inovasi dan perkuatan sistem
inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan
pemula berbasis teknologi.
Sri
Mulyani mengatakan bahwa kemajuan suatu negara
untuk mengejar ketertinggalan sangat tergantung pada tiga faktor yang yakni
Pendidikan, Kualitas Institusi dan Kesediaan Infrastruktur. “ Pertemuan ini
sangat penting untuk membangun fondasi kemajuan bangsa Indonesia, karena di
tangan Bapak/Ibu pimpinan perguruan tinggi sumber daya manusia, riset dan
inovasi dikelola,” ujar Menteri Keuangan.
Sri
Mulyani mengatakan bahwa Anggaran Pendidikan tahun 2018 adalah 444,13 Triliun
Rupiah, baik untuk alokasi pusat maupun alokasi daerah. Anggaran 20% dari total
APBN tersebut merupakan suatu pemihakan yang nyata bagi pendidikan dan riset
Indonesia. Anggaran tersebut dialokasikan bagi program-program prioritas
pendidikan dan penelitian antara lain Program Indonesia Pintar, Bidik Misi,
Bantuan Operasional Sekolah, Riset, dan program lainnya.
Terkait
‘disruptive technology’, Sri Mulyani mengatakan bahwa dunia pendidikan menjadi
garis depan di era digital. Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan
perkembangan teknologi. Sri Mulyani mengatakan bahwa perguruan tinggi harus
mampu merespon kebutuhan masyarakat yang saat ini sudah banyak melakukan
kegiatan pembelajaran secara online, sehingga perguruan tinggi tidak
ditinggalkan atau harus tutup. “Dunia cepat berubah, kita harus mampu cepat
adaptif dengan tetap menjaga karakter Indonesia,” ujar Sri Mulyani.
Biro Kerjasama
dan Komunikasi Publik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Read
more at https://ristekdikti.go.id/pengembangan-iptek-dan-pendidikan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/#pHkQOTPyR6iLJIAW.99
Era Revolusi Industri 4.0, Saatnya Generasi Millennial Menjadi Dosen Masa Depan
REVOLUSI 4.0
Arus
globalisasi sudah tidak terbendung masuk ke Indonesia. Disertai dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi
industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economy, artificial
intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan
fenomena disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, pengajaran di
perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah, termasuk dalam menghasilkan dosen
berkualitas bagi generasi masa depan.
Menteri
Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir
menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan negara dalam menghadapi
revolusi industri 4.0 Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi
tinggi. Meski masih di bawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi
Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness
index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke-36,
naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara. “Tetapi
jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita masih di
bawah. Tahun ini global competitiveness index Thailand di peringkat 32,
Malaysia 23, dan Singapura ketiga. Beberapa penyebab Indonesia masih kalah ini
karena lemahnya higher education and training, science and technology
readiness, dan innovation and business sophistication. Inilah yang perlu
diperbaiki supaya daya saing kita tidak rendah,” tutur Nasir dalam konferensi
pers di Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (29/1).
Menurut
Nasir, saat ini sasaran strategis Kemenristekdikti dianggap masih relevan
sehingga perubahan hanya dilakukan pada program dan model layanan yang lebih
banyak menyediakan atau menggunakan teknologi digital (online). Kendati
demikian, kebijakan pendidikan tinggi pun harus disesuaikan dengan kondisi
revolusi industri 4.0. Menurut dia, terdapat perubahan kebijakan dan program
yang terkait dengan sumber daya iptek dikti, kelembagaan, pembelajaran dan
kemahasiswaan, serta riset dan pengembangan juga inovasi. “Perubahan dalam
bidang sumber daya sangat penting, meliputi pengembangan kapasitas dosen dan
tutor dalam pembelajaran daring. Jadi dosen ini perannya juga sebagai tutor.
Kemudian pengembangan infrastruktur MOOC (Massive Open Online Course), teaching
industry, dan e-library yang sebenarnya sudah berjalan,” papar Nasir.
Berkaitan
dengan sumber daya, Nasir menambahkan, pada era ini Dosen memiliki tuntutan
lebih, baik dalam kompetensi maupun kemampuan untuk melakukan kolaborasi riset
dengan profesor kelas dunia. Nantinya, akan disusun kebijakan terkait izin
tinggal para profesor asing yang akan melakukan kolaborasi dengan Dosen di
perguruan tinggi Indonesia.
“Presiden
Joko Widodo memberikan arahan setidaknya ada 1.000 profesor kelas dunia yang
dapat berkolaborasi, tetapi kami punya target 200 profesor. Tetapi untuk
mewujudkannya perlu ada aturan terkait izin tinggalnya. Jadi izin tinggalnya
bukan izin kerja tetapi dalam kolaborasi untuk meningkatkan pendidikan tinggi
Indonesia. Masa tinggalnya sesuai dengan masa kontrak yang ditetapkan, bisa dua
sampai tiga tahun. Terkait itu, kami sudah berkomunikasi dengan Kementerian
Ketenagakerjaan,” sebutnya.
Kondisi
Dosen Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers
dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara mahasiswa yang
dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native. Direktorat Jenderal
Sumber Daya Iptek Dikti pun berupaya menambah dosen dari generasi millennial,
salah satunya melalui program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana
Unggul (PMDSU), yakni program beasiswa percepatan S-2 dan S-3 bagi lulusan S-1
dalam kurun waktu empat tahun. Program PMDSU sendiri setidaknya sudah
melahirkan dua dosen muda berkualifikasi Doktor, yaitu Grandprix (24 tahun) dan
Suhendra Pakpahan (29 tahun). Bahkan, keduanya mampu menerbitkan lebih dari lima publikasi internasional terindeks
Scopus.
“PMDSU
ini merupakan sebuah terobosan yang kami lakukan guna menyediakan SDM masa
depan Indonesia yang berkualitas dengan cara membangun role model pendidik dan
peneliti yang ideal sekaligus menumbuhkan academic leader di perguruan tinggi,
serta bekerja sama dengan komunitas keilmuan dalam merumuskan kompetensi inti
keilmuan,” ucap Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti
pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenristekdikti di Medan, belum lama ini.
Tantangan lain yang dihadapi dalam
rangka memenuhi kebutuhan dosen berkualitas adalah menjaring lulusan terbaik
perguruan tinggi untuk menjadi dosen. Pasalnya di era revolusi industri 4.0,
profesi dosen semakin kompetitif. Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan
kompetensi dosen yang dibutuhkan, meliputi:
(1) educational competence, kompetensi
berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini;
(2) competence in research, kompetensi
membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan
grant internasional;
(3) competence for technological
commercialization, punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada
komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian;
(4) competence in globalization, dunia
tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu
global competence dan keunggulan memecahkan national problem; serta
(5) competence in future strategies, di
mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi
memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya,
dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff
mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya.
Selain bidang
sumber daya iptek dikti, imbuh Nasir, pada bidang kelembagaan kebijakan baru
meliputi Peraturan Menteri (Permen) tentang Standar Pendidikan Tinggi Jarak
Jauh (PJJ), fleksibilitas dan otonomi kewenangan kepada unit untuk mendorong
kreativitas dan inovasi, serta memberi kesempatan untuk beroperasinya
universitas unggul dunia di Indonesia. Untuk bidang pembelajaran dan
kemahasiswaan, perubahan dilakukan dengan reorientasi kurikulum untuk membangun
kompetensi era revolusi industri 4.0 berikut hibah dan bimbingan teknisnya, dan
menyiapkan pembelajaran daring dalam bentuk hybrid atau blended learning
melalui SPADA-IdREN. Sedangkan pada bidang riset dan pengembangan serta
penguatan inovasi perubahan yang dilakukan meliputi penerapan teknologi digital
dalam pengelolaan riset, harmonisasi hasil riset dan penerapan teknologi
melalui Lembaga Manajemen Inovasi, serta mendorong riset dan inovasi di dunia
usaha atau industri dengan pemberian insentif fiskal maupun non fiskal.
“Perguruan
tinggi asing yang akan masuk Indonesia ini sudah mengantre. Kita jangan melihat
sebagai ancaman tetapi peluang. Kemenristekdikti mengatur melalui Permen
terkait izin perguruan asing tersebut, termasuk penetapan lokasi, program studi
yang dibuka, bahkan mewajibkan untuk bekerja sama dan berkolaborasi dengan
perguruan dalam negeri,” simpul Nasir kepada awak media. (ira)
Bagikan: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2018/01/30/era-revolusi-industri-4-0-saatnya-geEra Revolusi Industri 4.0, Saatnya Generasi Millennial Menjadi Dosen Masa Depan
SDM
PEMBANGUNAN
Tantangan SDM PEMBANGUNAN
Indonesia Era
Revolusi Industri 4.0
Relevansi
pendidikan dan pekerjaan, perlu disesuaikan dengan perkembangan era dan IPTEK
dengan tetap memberikan perhatian kepada aspek humanities
Pasar kerja
membutuhkan kombinasi berbagai skills yang berbeda dengan yang selama
ini diberikan oleh sistem pendidikan tinggi (Marmolejo, World Bank, 2017).
PERLUNYA LITERASI BARU
Menghadapi Era
Revolusi Industri 4.0
Sudah siapkah
kita? Menyiapkan lulusan lebih kompetitif
Agar lulusan
bisa kompetitif, kurikukum perlu orientasi baru, sebab adanya Era Revolusi
Industri 4.0, tidak hanya cukup Literasi Lama (membaca, menulis, &
matematika) sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat
Literasi
Data
Kemampuan untuk membaca, analisis, dan
menggunakan informasi (Big Data) di dunia digital.
Literasi
Teknologi
Memahami cara kerja mesin, aplikasi
teknologi (Coding,Artificial Intelligence, & Engineering Principles).
Literasi
Manusia
Memahami cara
kerja mesin, aplikasi teknologi (Coding, Artificial Intelligence, &
Engineering Principles). Humanities, Komunikasi, & Desain.
Bagaimana
caranya meyakinkan mahasiswa bahwa literasi baru ini akan membuat mereka
kompetitif?
LITERASI MANUSIA
Universitas
perlu mencari metoda untuk mengembangkan kapasitas kognitif mahasiswa: higher order
mental skills, berpikir kritis & sistemik: amat penting untuk bertahan di
era revolusi industri 4.0.
Agar manusia
bisa berfungsi dengan baik di lingkungan manusia: Humanities, Komunikasi, &
Desain.
Keterampilan:
1. Kepemimpinan
(leadership)
2. Bekerja dalam
tim (team work)
Kelincahan dan
kematangan budaya (Cultural Agility): Mahasiswa dengan berbagai latar belakang
mampu bekerja dalam lingkungan yang berbeda (dalam/luar negeri). Entrepreneurship
(termasuk social entrepreneurship): Harus merupakan kapasitas dasar yang dimiliki
oleh semua mahasiswa.
Bagaimana
mengajarnya?
(Aoun, 2017) Studi tematik berbagai disiplin, hubungkan
dengan dunia nyata, project based-learning.
• Melalui
General Education, Ekstra-kurikuler.
• Magang/kerja
praktek/co-op program (al. higher order skills, leadership, team work)
(Northeastern)
Solusi
General
Education + Kompetensi Revolusi Industri 4.0 Literasi manusia menjadi
bagian dari
General Education yang harus dikuasai mahasiswa. Literasi data & teknologi
dapat diterapkan dalam mata kuliah pilihan.
“BELAJAR
SEPANJANG HAYAT
Belajar sepanjang
hayat perlu difasilitasi oleh universitas (karena pendidikan tidak berhenti
setelah memperoleh ijazah).
“Lifelong
learning is becoming an economic imperative (Economist, 2017) Tidak sedikit perguruan
tinggi di negara maju yang memfasilitasi life-long learning (sudah
dianggap hal yang
amat penting, USA: 12,8 juta mahasiswa/tahun) dengan suatu unit khusus, disediakan
untuk pembelajar lanjut yang ingin memperoleh pengetahuan/ keterampilan atau kompetensi
baru yang sesuai dengan perubahan teknologi/pekerjaan.
Solusi
Pembelajaran 4.0
BLENDED LEARNING
Difasilitasi
SPADA& IdREN: Video Conference,
Online Learning,
Resource Sharing
Biaya
kuliah semakin mahal
•Jumlah dosen
terbatas
•Jumlah
mahasiswa bertambah
•Memanfaatkan
TIK untuk peningkatan produktifitas (efektifitas & efisiensi) dengan tetap
mempertahankan mutu.
•Harmonisasi/pengembangan
peraturan yang ada
“OneProfessor ThousandStudents”
Seorang dosen di damping beberapa asisten/instruktur dapat mengajar kelas besar;
atau seorang dosen dapat mengajar mata kuliah tertentu ke PT/Prodi tertentu yang
kekurangan dosen
Reorientasi
Kurikulum
•Literasi baru
(data, teknologi, humanities) dikembangkan dandiajarkan.
•Kegiatanekstra
kurikuler untuk pengembangan kepemimpinandanbekerja dalam tim agar terus
dikembangkan.
•Entrepreneurshipdaninternshipagar
diwajibkan.
Unit Khusus
Life-long Learning
Disarankanperguruantinggi
mempunyai unit yang secara khusus memberikan layanan life-long learning.
PENDIDIKAN
TINGGI
Kebijakan
Ditjen Belmawa
Era Revolusi
Industri 4.0
Hybrid/Blended
Learning, Online
Menerapkan
sistem pengajaran Hybrid/Blended Learningmelalui SPADA-IdREN.
HibahdanBimtekdariBelmawauntukreorientasikurikulum
(GEN-RI 4.0)untuk400 PT
Sumber:
Mading Zona Siswa.

Komentar
Posting Komentar